Presiden.co.id – 12 Juni 2026 | Dalam sebuah ironi yang mencolok di industri kecerdasan buatan, Anthropic Is Worth $965 Billion and Still Needs Google to Pay Its Rent. Perusahaan AI yang baru saja mencapai valuasi fenomenal itu ternyata masih bergantung pada rival terbesarnya untuk membiayai sewa pusat data raksasa yang dibutuhkannya untuk tetap kompetitif.
Valuasi Fantastis, Ketergantungan Nyata
Anthropic, yang didirikan oleh mantan eksekutif OpenAI, baru saja menutup putaran pendanaan senilai $65 miliar pada akhir Mei lalu, membawa valuasi perusahaan menjadi $965 miliar. Angka tersebut menempatkan Anthropic di atas OpenAI dalam hal nilai pasar implisit. Namun, di balik angka fantastis itu, terdapat realitas yang mencengangkan: perusahaan ini masih membutuhkan jaminan pembayaran dari Google, pesaing langsungnya, untuk menyewa pusat data.
Menurut laporan The Information yang dikutip oleh BeInCrypto, Anthropic telah menandatangani lebih dari selusin perjanjian pendahuluan untuk menyewa pusat data di AS dengan kapasitas gabungan di atas 1 gigawatt. Untuk memastikan pembayaran sewa tersebut, eksekutif Anthropic dilaporkan tengah merundingkan pengaturan di mana Google akan menjadi penjamin keuangan. Apollo Global Management dan Blackstone disebut-sebut akan menyediakan kredit swasta sebagai bagian dari struktur pembiayaan yang lebih luas.
Baca Juga
Hubungan Kompleks Google-Anthropic
Hubungan antara Google dan Anthropic memang rumit. Di satu sisi, Google Gemini bersaing langsung dengan Claude milik Anthropic di berbagai lini, mulai dari asisten AI, alat coding, hingga perangkat lunak perusahaan. Namun di sisi lain, Google telah menginvestasikan hingga $40 miliar di Anthropic dan ikut merancang chip server yang akan digunakan Anthropic di fasilitas barunya.
Jaminan sewa yang dilaporkan akan semakin memperdalam keterikatan ini. Google akan bertanggung jawab atas pembayaran sewa jika Anthropic gagal memenuhinya. Baik Google maupun Anthropic belum memberikan komentar resmi. Google hanya menyatakan tidak berkomentar soal rumor atau spekulasi, sementara Anthropic tidak menanggapi permintaan komentar.
Langkah Menuju IPO dan Kemandirian Infrastruktur
Anthropic telah mengajukan IPO secara rahasia di AS awal bulan ini, tanpa mengungkapkan ukuran atau ketentuan penawaran. Selama ini, Anthropic sangat bergantung pada penyedia cloud, termasuk Google Cloud, untuk kapasitas komputasi. Dengan menyewa dan mengoperasikan fasilitas sendiri, Anthropic berharap dapat mengontrol biaya dan kinerja sekaligus mengurangi ketergantungan pada penyedia yang juga merupakan pesaing langsung.
Keputusan untuk membangun pusat data sendiri merupakan langkah strategis yang mahal. Inilah mengapa Anthropic Is Worth $965 Billion and Still Needs Google to Pay Its Rent menjadi sorotan. Meskipun valuasinya sangat tinggi, kebutuhan modal untuk infrastruktur AI sangat besar sehingga perusahaan tetap membutuhkan dukungan finansial dari pihak luar, termasuk dari rivalnya.
Ketergantungan Timbal Balik di Industri AI
Fenomena ini bukanlah kasus yang terisolasi. Anthropic juga membayar SpaceX, yang melalui xAI menjadi pesaing, sebesar $1,25 miliar per bulan untuk komputasi AI. Kedua perusahaan sama-sama menuju IPO dan bersaing untuk mendapatkan modal institusional yang sama, namun tetap menjalin bisnis satu sama lain. Hal ini menunjukkan betapa saling bergantungnya para pemain AI saat ini.
Google sendiri memiliki kepentingan strategis di balik dukungannya terhadap Anthropic. Keberhasilan Anthropic akan mencegah OpenAI memonopoli pasar AI enterprise sekaligus memvalidasi investasi infrastruktur AI Google. Dengan kata lain, meskipun Anthropic Is Worth $965 Billion and Still Needs Google to Pay Its Rent, hubungan ini menguntungkan kedua belah pihak dalam jangka panjang.
Kesimpulan
Kasus Anthropic menunjukkan bahwa di dunia AI, valuasi tinggi belum tentu berarti kemandirian finansial. Infrastruktur yang dibutuhkan untuk bersaing sangat mahal sehingga perusahaan sekaliber Anthropic pun masih membutuhkan jaminan dari pesaingnya. Anthropic Is Worth $965 Billion and Still Needs Google to Pay Its Rent bukan sekadar judul sensasional, melainkan cerminan realitas industri AI saat ini: kolaborasi dan kompetisi berjalan beriringan, dan ketergantungan terhadap pihak lain adalah harga yang harus dibayar untuk tetap berada di puncak.




