Kesalahan Fatal FTX: Jual Saham Terlalu Dini, Kini Bernilai Miliaran Dolar

Author Image

Terbit

17 Juni 2026, 06:27 WIB

Kesalahan Fatal FTX: Jual Saham Terlalu Dini, Kini Bernilai Miliaran Dolar
Kesalahan Fatal FTX: Jual Saham Terlalu Dini, Kini Bernilai Miliaran Dolar

Presiden.co.id – 17 Juni 2026 | Siapa yang tak kenal Sam Bankman-Fried (SBF), pendiri bursa kripto FTX yang kini mendekam di penjara. Di balik kejatuhannya, terdapat kisah ironis tentang investasi yang dijual terlalu dini, yang kemudian berubah menjadi pundi-pundi miliaran dolar. Fenomena inilah yang kini menjadi sorotan tajam di kalangan investor dan analis keuangan, dengan tajuk ‘SBF Sold Too Early: These Exited Bets Later Turned Into Multi-Billion Winners’.

Cursor: Investasi Rp3 Miliar Kini Bernilai Rp45 Triliun

Salah satu contoh paling mencolok adalah investasi Alameda Research, perusahaan milik SBF, di Anysphere, pengembang alat coding AI bernama Cursor. Pada 2022, Alameda menggelontorkan dana sebesar $200.000 (sekitar Rp3 miliar) dalam putaran pendanaan awal (pre-seed) dan mendapatkan sekitar 5% saham perusahaan. Namun, pada 2023, kurator kebangkrutan FTX menjual kembali saham tersebut seharga modal awal, menganggapnya sebagai aset kecil yang perlu segera dilikuidasi. Keputusan ini terbukti sangat mahal. Pekan ini, SpaceX mengumumkan akuisisi Cursor dalam kesepakatan saham senilai $60 miliar. Dengan demikian, 5% saham yang dijual murah itu kini bernilai sekitar $3 miliar (Rp45 triliun). Sebuah keuntungan 15.000 kali lipat yang tak sempat dinikmati. ‘SBF Sold Too Early: These Exited Bets Later Turned Into Multi-Billion Winners’ menjadi nyata.

Anthropic: Kehilangan Potensi Rp450 Triliun

Kisah serupa terjadi pada investasi FTX di Anthropic, laboratorium AI yang didirikan mantan peneliti OpenAI. Pada 2021, FTX menanamkan sekitar $500 juta (Rp7,5 triliun) untuk mendapatkan hampir 8% saham. Setelah kebangkrutan, saham tersebut dijual dalam dua tahap pada 2024 dengan total sekitar $1,3 miliar (Rp19,5 triliun). Kini, Anthropic telah mencapai valuasi $380 miliar (Rp5.700 triliun) setelah putaran pendanaan terbaru. Artinya, 8% saham yang dijual itu kini bernilai lebih dari $30 miliar (Rp450 triliun). Selisih 23 kali lipat antara harga jual dan nilai saat ini menjadi bukti betapa keputusan menjual di saat tertekan dapat mengorbankan potensi keuntungan luar biasa. ‘SBF Sold Too Early: These Exited Bets Later Turned Into Multi-Billion Winners’ kembali terkonfirmasi.

Robinhood, Solana, dan Sui: Deretan Investasi yang Terlewat

Pola serupa juga terlihat pada investasi FTX di Robinhood, Solana, dan Sui. Saham Robinhood senilai $648 juta (Rp9,7 triliun) yang dibeli pada 2022 dijual paksa oleh pemerintah AS pada 2023 seharga $605,7 juta (Rp9 triliun). Kini, nilai saham tersebut melonjak menjadi lebih dari $5 miliar (Rp75 triliun). Sementara itu, token Solana (SOL) sebanyak 30 juta unit dijual sekitar $64 per keping pada 2024, padahal sempat mencapai puncak $293 pada awal 2025. Meski kini kembali ke $74, keputusan menjual di harga rendah tetap merugikan. Adapun Sui (SUI) dijual kembali ke Mysten Labs hampir seharga modal, tanpa menikmati kenaikan signifikan. Semua ini memperkuat narasi ‘SBF Sold Too Early: These Exited Bets Later Turned Into Multi-Billion Winners’.

Kesimpulan: Antara Tekanan Likuiditas dan Visi Investasi

Kurator kebangkrutan FTX, John J. Ray III, memang dihadapkan pada kebutuhan likuiditas mendesak untuk membayar kreditor. Namun, keputusan menjual aset-aset potensial ini terlalu dini menjadi pelajaran berharga. SBF, meskipun kontroversial, terbukti memiliki ‘mata elang’ dalam memilih investasi. Jika saja aset-aset tersebut tidak dijual paksa, nilai kekayaan SBF secara teori bisa mencapai $100 miliar, menempatkannya di jajaran orang terkaya dunia. ‘SBF Sold Too Early: These Exited Bets Later Turned Into Multi-Billion Winners’ bukan sekadar judul, melainkan refleksi pahit dari kegagalan manajemen krisis yang mengorbankan potensi keuntungan jangka panjang.

Related Post

Terbaru