Ray Dalio: Gelembung AI Akan Pecah, Bukan Karena Teknologi Gagal, Tapi Karena Uang Habis

Author Image

Terbit

4 Juni 2026, 05:40 WIB

Ray Dalio: Gelembung AI Akan Pecah, Bukan Karena Teknologi Gagal, Tapi Karena Uang Habis
Ray Dalio: Gelembung AI Akan Pecah, Bukan Karena Teknologi Gagal, Tapi Karena Uang Habis

Presiden.co.id – 04 Juni 2026 | Pendiri Bridgewater Associates, Ray Dalio, kembali membuat pernyataan kontroversial. Dalam wawancara dengan Bloomberg Television, ia mengungkapkan bahwa ancaman terbesar dari kecerdasan buatan (AI) bukanlah kegagalan teknologi, melainkan masalah likuiditas. Ray Dalio Says AI’s Biggest Threat Isn’t What Most People Think – bukan soal AI tidak bekerja, tetapi ketika investor harus mengonversi kekayaan kertas menjadi uang tunai.

Kekayaan vs Uang: Perbedaan Krusial

Dalio dengan tegas membedakan antara kekayaan dan uang. Sebuah startup bisa mencapai valuasi miliaran dolar setelah hanya mengumpulkan $50 juta. Angka itu dianggap sebagai kekayaan, namun tidak bisa dibelanjakan. Uang adalah apa yang benar-benar digunakan orang untuk bertransaksi. Untuk mendapatkannya, pemegang saham harus menjual kekayaan mereka terlebih dahulu. Ketika kekayaan tumbuh jauh lebih cepat daripada jumlah uang beredar, sistem keuangan menjadi rapuh. Kesenjangan inilah yang menjadi inti mengapa banyak miliarder tetap optimis pada AI sementara uang tunai riil semakin langka.

Skala Investasi AI yang Mengkhawatirkan

Perusahaan AI mampu menciptakan triliunan valuasi tanpa memiliki uang yang cukup untuk mendukungnya. Bridgewater memperkirakan Alphabet, Amazon, Meta, dan Microsoft bisa menginvestasikan sekitar $650 miliar dalam infrastruktur AI pada 2026, naik tajam dari sekitar $410 miliar pada 2025. Angka ini menunjukkan betapa besarnya ekspektasi terhadap AI, namun juga potensi kerapuhan jika likuiditas mengering.

Apa yang Bisa Memicu Pecahnya Gelembung?

Menurut Dalio, pemicu pecahnya gelembung terjadi ketika pemegang saham tiba-tiba membutuhkan uang tunai. Pembayaran utang, pajak kekayaan, atau penebusan dana dapat mendorong pemilik besar untuk menjual secara bersamaan. “Semua perubahan teknologi besar menghasilkan gelembung. Dan alasannya adalah karena tidak ada yang bisa memprediksi dengan tepat. Anda harus menghabiskan banyak uang untuk merebut pangsa pasar,” ujar Dalio.

Ia menghubungkan risiko ini dengan neraca pemerintah yang tegang. Amerika Serikat membelanjakan sekitar $7 triliun dengan pendapatan hanya $5 triliun. Defisit itu memaksa lebih banyak utang ke pasar obligasi yang sudah tertekan. Dalio juga menyoroti tekanan di pasar obligasi sebagai sinyal bahaya, di mana kenaikan suku bunga jangka panjang relatif terhadap jangka pendek sering menandakan masalah, menggemakan peringatan tatanan moneter globalnya.

Indikator gelembung Dalio kini berada di dekat level yang terakhir terlihat pada tahun 2000 dan 1929. Ia menandai jendela rentan setelah pemilihan paruh waktu dan sebelum pemilihan presiden. Konflik politik atas pajak bisa memperparah tekanan saat itu. Meski demikian, ia mengingatkan investor untuk tidak panik menjual dan bersiap menghadapi imbal hasil yang lebih rendah ke depan.

Ujian untuk Semua Aset Berisiko

Perbedaan ini tidak hanya penting untuk saham AI, tetapi juga untuk semua aset berisiko, dari ekuitas hingga kripto. Dalio masih menyukai Bitcoin sebagai emas digital dibanding uang tunai. Namun, guncangan mendadak bisa mempercepat prosesnya. Ia memperingatkan bahwa penghentian ekspor chip dari Taiwan akan membuat saham AI jatuh dengan cepat. Apakah tekanan datang dari pajak, utang, atau penebusan, hal itu akan menentukan bagaimana bulan-bulan mendatang berlangsung bagi pasar.

Dalam konteks inilah Ray Dalio Says AI’s Biggest Threat Isn’t What Most People Think menjadi sangat relevan. Ancaman terbesar bukanlah bahwa AI tidak akan berhasil, melainkan bahwa sistem keuangan tidak memiliki cukup uang tunai untuk mendukung valuasi yang melambung. Ray Dalio Says AI’s Biggest Threat Isn’t What Most People Think – ini adalah peringatan bahwa gelembung AI akan pecah karena likuiditas, bukan karena teknologi gagal.

Kesimpulan

Dalio mengajak investor untuk waspada terhadap kesenjangan antara kekayaan dan uang. Dengan investasi infrastruktur AI yang sangat besar dan kondisi fiskal yang rapuh, risiko likuiditas menjadi momok nyata. Ray Dalio Says AI’s Biggest Threat Isn’t What Most People Think – dan kali ini, ia mungkin benar. Investor harus bersiap untuk periode imbal hasil rendah dan volatilitas tinggi, karena gelembung AI mungkin akan segera diuji.

Related Post

Terbaru