Presiden.co.id – 11 Juli 2026 | Binance vs Strategy, Mana yang Lebih Rugi Saat Bitcoin Down? Perbandingan ini menjadi sorotan terakhir setelah analis on-chain CryptoQuant, Darkfost, menilai Strategy masih menanggung kerugian belum terealisasi yang lebih besar dibandingkan Binance. Analisis itu muncul setelah Strategy, perusahaan yang sebelumnya dikenal sebagai MicroStrategy, kembali menjual sebagian kepemilikan Bitcoin. Penjualan tersebut menjadi salah satu transaksi terbesar perusahaan dalam beberapa waktu terakhir.
Penjualan itu memicu diskusi baru mengenai posisi keuangan Binance vs Strategy, terutama karena harga Bitcoin masih berada di bawah harga rata-rata pembelian perusahaan. Binance vs Strategy dalam Cadangan Bitcoin Menurut Darkfost, bursa kripto global saat ini menyimpan sekitar 8 juta BTC. Dari jumlah itu, sekitar 30 persen berada di Binance. Binance disebut memiliki sekitar 656.561 BTC. Jumlah tersebut membuatnya menjadi bursa dengan cadangan Bitcoin terbesar di dunia. Namun, kepemilikan itu masih lebih kecil dibandingkan Strategy. Darkfost mencatat Strategy memegang 843.775 BTC, sehingga tetap berada di atas Binance dari sisi jumlah Bitcoin yang dikaitkan dengan entitas tersebut.
Perbandingan Binance vs Strategy ini tidak bisa dibaca secara sederhana. Darkfost menegaskan sebagian besar Bitcoin yang berada di Binance merupakan aset milik pengguna, bukan aset perusahaan. Kondisi itu berbeda dengan Strategy, yang memang dikenal sebagai perusahaan pemegang Bitcoin dalam strategi treasury korporasinya. Binance Melepas Cadangan Perusahaan Dalam analisis tersebut, Binance disebut telah melepas sekitar 94 persen cadangan Bitcoin miliknya pada awal 2025. Langkah itu disebut sebagai bagian dari restrukturisasi bisnis dan pengalihan ke stablecoin. Sejak saat itu, Bitcoin yang tersimpan di Binance mayoritas merupakan dana milik investor.
Baca Juga
Karena itu, posisi Binance tidak sama dengan perusahaan yang menyimpan Bitcoin sebagai aset neraca sendiri. Perbedaan struktur kepemilikan ini menjadi penting dalam membaca Binance vs Strategy. Binance menyimpan BTC dalam skala besar, tetapi banyak di antaranya merupakan aset pelanggan. Sebaliknya, Strategy memiliki eksposur langsung terhadap pergerakan harga Bitcoin. Jika harga turun di bawah harga rata-rata pembelian, tekanan pada posisi keuangan Strategy menjadi lebih terlihat.
Strategy Jual BTC untuk Likuiditas Dalam kurang dari dua bulan, Strategy disebut telah dua kali menjual Bitcoin. Penjualan pertama dilakukan pada akhir Mei dengan melepas 32 BTC senilai sekitar US$2,5 juta. Penjualan kedua terjadi pekan ini. Strategy menjual 3.588 BTC dengan nilai sekitar US$216 juta. Menurut Darkfost, penjualan tersebut lebih mencerminkan kebutuhan likuiditas perusahaan dibandingkan perubahan pandangan terhadap Bitcoin. Dana hasil penjualan digunakan untuk pembayaran dividen sekuritas dan kebutuhan operasional. Dengan kata lain, laporan itu tidak menyimpulkan Strategy kehilangan keyakinan terhadap Bitcoin. Penjualan dinilai lebih berkaitan dengan kebutuhan pendanaan jangka pendek.
Pada konteks Binance vs Strategy, salah satu faktor yang membuat posisi Strategy dinilai lebih tertekan adalah harga rata-rata akumulasi Bitcoin. Darkfost mencatat Strategy membeli Bitcoin dengan harga rata-rata sekitar US$75.476 per BTC. Sementara itu, penjualan terbaru dilakukan ketika Bitcoin berada di kisaran US$60.000. Dengan selisih tersebut, perusahaan diperkirakan merealisasikan kerugian sekitar 20 persen dari Bitcoin yang dijual. Sebagai pembanding, seluruh cadangan Bitcoin di Binance diperkirakan memiliki realized price sekitar US$60.900. Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan harga rata-rata akumulasi Strategy.
Perbedaan harga dasar tersebut membuat posisi Strategy lebih sensitif terhadap pelemahan Bitcoin. Selama harga BTC belum kembali ke atas harga rata-rata pembelian perusahaan, potensi tekanan pada neraca Strategy tetap menjadi perhatian pasar. Unrealized Loss Bisa Bertambah Jika dilihat dari perbandingan Binance vs Strategy, ukuran kepemilikan juga menjadi faktor penting. Strategy memiliki jumlah Bitcoin lebih besar dibandingkan Binance, sehingga eksposur terhadap kerugian belum terealisasi juga lebih besar. Darkfost menilai apabila Strategy kembali menjual Bitcoin saat harga masih berada di sekitar US$60.000, perusahaan berpotensi membukukan kerugian yang lebih besar.
Risiko itu muncul karena harga jual berada jauh di bawah harga rata-rata pembelian. Semakin besar jumlah BTC yang dilepas pada level harga tersebut, semakin besar pula potensi kerugian yang direalisasikan. Namun, laporan tersebut tetap menempatkan penjualan Strategy dalam konteks likuiditas. Strategy disebut masih menggunakan penjualan Bitcoin untuk memenuhi kewajiban dividen dan kebutuhan operasional.
Pada laporan terbaru yang dibahas Darkfost, Strategy masih memegang 843.775 BTC, sementara Binance tercatat memiliki sekitar 656.561 BTC dengan mayoritas aset di bursa disebut sebagai milik pengguna. Dengan demikian, perbandingan Binance vs Strategy masih menarik perhatian pasar. Posisi keuangan kedua entitas ini akan terus menjadi sorotan dalam industri kripto.
Kesimpulan Perbandingan Binance vs Strategy dalam hal cadangan Bitcoin dan kerugian belum terealisasi menunjukkan bahwa Strategy masih menanggung risiko yang lebih besar. Namun, penjualan Bitcoin oleh Strategy tidak berarti perusahaan kehilangan keyakinan terhadap Bitcoin. Penjualan itu lebih berkaitan dengan kebutuhan likuiditas perusahaan. Posisi keuangan kedua entitas ini akan terus menjadi sorotan dalam industri kripto.



