Silver Bleeds $48 Juta di Tengah Tekanan Minyak yang Menguat Kembali

Author Image

Terbit

3 Juni 2026, 17:43 WIB

Silver Bleeds $48 Juta di Tengah Tekanan Minyak yang Menguat Kembali
Silver Bleeds $48 Juta di Tengah Tekanan Minyak yang Menguat Kembali

Presiden.co.id – 03 Juni 2026 | Harga perak (XAG/USD) mengalami tekanan signifikan dalam sepekan terakhir, dengan arus keluar bersih mencapai $48 juta di pasar spot dan token. Fenomena Silver Bleeds $48 Million as Oil Pressure Roars Back ini terjadi di tengah dua faktor utama: spekulan yang sudah mulai mengurangi posisi bullish mereka, dan eskalasi konflik Iran yang kembali mendorong harga minyak melonjak. Pada saat penulisan, perak diperdagangkan di sekitar $74, turun lebih dari 1% secara harian, jauh dari rekor Januari di dekat $121.

Spekulan Mulai Menarik Diri Sebelum Minyak Bergerak

Kelemahan perak sebenarnya sudah terlihat sebelum berita utama pekan ini. Data posisi menunjukkan spekulan mengurangi eksposur bullish jauh sebelum minyak naik lebih dari 2% akibat eskalasi perang Iran. Laporan Commitments of Traders (COT) COMEX per 26 Mei mencatat bahwa spekulan besar memotong posisi beli mereka sebanyak 1.833 kontrak dan menambah posisi jual sebanyak 615 kontrak. Sementara itu, hedger komersial melakukan sebaliknya dengan memangkas posisi jual 1.278 kontrak dan menambah beli 497 kontrak, menunjukkan sikap yang sedikit kurang bearish.

Total open interest naik 993 kontrak menjadi sekitar 101.744, menandakan pasar tidak kosong, namun posisi menjadi lebih hati-hati. JPMorgan sebelumnya telah menyatakan tetap berhati-hati terhadap perak hingga gelembung dari kenaikan 2025 benar-benar terkoreksi. Posisi COT ini mencerminkan kehati-hatian yang sama.

Eskalasi Iran Mengembalikan Tekanan Minyak

Pada hari Senin, media pemerintah Iran mengumumkan penangguhan perundingan dengan AS dan berjanji untuk menutup penuh Selat Hormuz, yang membawa sekitar seperlima pasokan minyak dunia. Akibatnya, harga minyak mentah WTI melonjak lebih dari 5% pada 1 Juni, membalikkan tren penurunan sebelumnya. Lonjakan WTI kini mencapai lebih dari 8% secara mingguan.

Pergerakan minyak ini sangat relevan bagi perak karena kedua aset tersebut bergerak berlawanan arah. Korelasi 30 hari antara perak dan minyak mentah saat ini berada di sekitar -0,42, menunjukkan hubungan negatif yang kuat. Ketika minyak melonjak karena ketakutan pasokan, hal itu meningkatkan kekhawatiran inflasi dan suku bunga, serta menaikkan biaya energi bagi pembeli industri. Perak cenderung turun saat minyak naik, dan kesenjangan semakin lebar. Sejak awal Maret, minyak mentah telah naik sekitar 28% sementara perak turun sekitar 10%.

Pembicaraan gencatan senjata pada akhir Mei sempat mendorong perak naik saat minyak mereda, namun eskalasi Senin lalu membalikkan situasi tersebut. Silver Bleeds $48 Million as Oil Pressure Roars Back menjadi gambaran nyata dari tekanan ganda yang dihadapi logam mulia ini.

Penjualan Tunai vs Opsi: Pasar Terbelah

Tekanan juga terlihat di pasar spot dan token. Perak turun lebih dari 1% dalam jendela 30 hari dengan penjualan bersih sekitar $48 juta di Hyperliquid, sementara emas juga mencatat outflow $50 juta. Volume perdagangan perak mencapai sekitar $5,3 miliar, menunjukkan bahwa penjualan ini disertai aliran riil.

Namun, pasar opsi menceritakan kisah berbeda. Pada iShares Silver Trust (SLV), rasio put-call berdasarkan volume berada di 0,44 dan berdasarkan open interest di 0,53 per 2 Juni. Kedua angka tersebut jauh di bawah 1, yang berarti opsi beli (call) lebih banyak daripada opsi jual (put). Pedagang opsi tetap optimistis meskipun penjual tunai mendorong harga turun. Perpecahan ini menggambarkan pertarungan antara reaksi jangka pendek terhadap headwind minyak dan keyakinan bahwa kelemahan ini hanya sementara.

Model Solar-Demand Menunjukkan Diskon Langka

Sinyal lain datang dari sisi industri perak. Model Silver vs Solar Lag Model turun ke sekitar -2,77, mendekati level terendah yang pernah tercatat di -3,35 pada pertengahan Mei 2025. Saat itu, perak diperdagangkan di dekat $32 sebelum kemudian melonjak ke rekor $121. Sekarang, dengan harga perak di $74, model ini menunjukkan bahwa harga berada pada diskon lebar dibandingkan dengan sinyal permintaan dari sektor tenaga surya.

Diskon ini sejalan dengan sinyal forward-looking lainnya: hedger komersial mengurangi posisi jual mereka, dan opsi SLV condong ke arah call. Meskipun satu sinyal bukan jaminan, pola ini mirip dengan yang terjadi sebelum kenaikan besar terakhir. Perak saat ini berada dalam kondisi defisit pasokan selama lima tahun berturut-turut, dan 2026 diprediksi menjadi tahun keenam. Harga tinggi mendorong produsen panel surya untuk menggunakan lebih sedikit perak per panel, sehingga permintaan industri diperkirakan turun sekitar 2% tahun ini. Namun, pasokan juga menyusut, sehingga defisit terus melebar.

Kesimpulan

Untuk saat ini, sinyal pasar terbelah. Kenaikan minyak dapat terus menekan perak dalam jangka pendek. Namun, defisit pasokan, optimisme pasar opsi, dan sinyal diskon dari model solar-demand menunjukkan bahwa penurunan saat ini mungkin hanya jeda, bukan puncak. Silver Bleeds $48 Million as Oil Pressure Roars Back adalah headline yang mencerminkan tekanan sesaat, namun fundamental jangka panjang masih mendukung potensi kenaikan. Investor perlu mencermati perkembangan geopolitik dan data ekonomi untuk menentukan arah selanjutnya.

Related Post

Terbaru